Benarkah Analisa Fundamental Sulit?


Solo, 13 Agustus 2019 By Liliana Kurniawati

Sebelum memutuskan investasi saham dengan membeli saham pilihan Anda, maka banyak pendekatan yang bisa Anda lakukan untuk memilih mana saham terbaik. Salah satu pendekatan yg dapat dilakukan untuk menilai saham perusahaan tersebut layak dibeli atau tidak adalah menggunakan analisa fundamental.

Analisa fundamental adalah metode yang digunakan untuk menilai kondisi perusahaan, baik kondisi keuangannya, profitabilitasnya, strategi bisnisnya, bisnis modelnya, kompetisinya di pasar, prospek bisnisnya, sektor bisnisnya, industrinya dan lain sebagainya. Apabila kita melakukan analisa tersebut maka kita menggunakan pendekatan mikro atau bottom up. Sedangkan pendekatan makro adalah analisa yang melihat kondisi globalnya, seperti inflasi, suku bunga Bank Indonesia, Produk Domestik Bruto, dan sebagainya.

Dari sini pasti Anda sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa analisa fundamental itu sulit dilakukan dan saya nggak bisa melakukannya, apalagi saya tidak punya latar belakang ekonomi, apalagi akuntansi.

Saya hanya ibu rumah tangga.

Saya hanya karyawan kantoran biasa.

Saya hanya mahasiswa.

Saya hanya tukang gorengan, saya hanya jaga toko.

Bagaimana mungkin saya bisa melakukan analisa fundamental ?

Wait, sebelum Anda meremehkan kemampuan Anda dalam melakukan analisa fundamental, saya ingin mengajak Anda untuk membaca artikel ini sampai selesai dan Anda bisa memutuskan sendiri apakah analisa fundamental itu sulit untuk dilakukan atau tidak.

Sudah siap semuanya ya. Kita akan mulai melakukan analisa fundamental secara mikro, yakni melihat apakah perusahaan yg akan kita beli sahamnya tersebut memiliki kondisi keuangan yg sehat atau tidak.

Ciri-ciri perusahaan memiliki fundamental yang baik:

  1. Labanya selalu bertumbuh dari tahun ke tahun. Laba ini bisa dilihat melalui EPS (Earning per Share) atau laba per saham.
  2. ROE (Return on Equity) > 10%. ROE adalah kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan modal yg dimiliki perusahaan.
  3. DER (Debt Equity Ratio) < 100%. DER adalah total hutang yg dimiliki perusahaan dibandingkan dengan modal yg dimiliki perusahaan. Untuk sektor perbankan maka DER < 100% tidak berlaku karena uang tabunhan atau deposito Anda di Bank dicatat sebagai hutang. Sehingga rata-rata sektor perbankan memiliki DER > 500%.
  4. CRR (Current Ratio) > 100%. CRR adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban / liabilitas / hutang jangka pendeknya menggunakan aset jangka pendeknya.

Untuk dapat melihat rasio-rasio di atas, Anda tidak perlu menghitungnya secara manual karena rata-rata rasio di atas sudah disiapkan di aplikasi trading online gratis dari sekuritas tempat Anda membuka akun saham.

Namun kalau Anda belum membuka akun saham atau Anda malas login di aplikasi trading online Anda, maka kita bisa memanfaatkan aplikasi RTI Business. Aplikasi RTI bisa di download gratis di Play Store.

Setelah Anda mendownload, maka masukkan kode saham yang ingin Anda analisa fundamentalnya dengan klik gambar kaca pembesar atau search di sebelah pojok kanan atas . Saya akan mengambil contoh saham KINO untuk kita analisa fundamentalnya. Setelah itu geser kanan dan cari bagian Key Statistics.

Berdasarkan Earning Per Share di atas kita lihat bahwa dari tahun ke tahun laba KINO meningkat. Dari yang awalnya 126 menjadi 511 per saham. Hal ini berarti setiap 1 lembar saham KINO menghasilkan laba Rp. 511 di tahun 2019. Dalam hal ini, KINO memenuhi ciri saham dengan fundamental baik yang No. 1 ya.

Apabila kita lihat ROE KINO adalah 28.47% dan ini > 10%. Jadi kalau kita analogikan dari setiap Rp. 100 yang menjadi modal KINO mampu menghasilkan laba Rp. 28.47. Laba ini cukup tinggi dan KINO memenuhi ciri No. 2.

DER KINO adalah 79.46%, apabila di analogikan bahwa kino memiliki modal Rp.100 maka total hutang yg dimiliki KINO adalah Rp. 79.46. Masih cukup bagus karena total hutang (hutang jangka pendek + hutang jangka panjang) masih kurang dari 100%. Jadi, KINO memenuhi ciri No.3.

CRR KINO adalah 123.27%, hal ini berarti aset jangka pendeknya masih lebih besar dari kewajiban jangka pendeknya. Atau singkat ceritanya KINO masih mampu memenuhi kebutuhan jangka pendeknya. Jadi, KINO memenuhi ciri No.4.

Dari keempat ciri-ciri di atas, bisa kita simpulkan bahwa KINO merupakan perusahaan yang memiliki kondisi fundamental baik.

Mudah sekali kan melakukan analisa fundamental. Dan kita bisa melakukannya hanya dalam waktu kurang dari 5 menit. Jadi, masih berfikir kalau analisa fundamental itu sulit?

Baca Juga : Mau beli saham ? Jawab dulu pertanyaan berikut

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Istilah Saham yang Wajib Anda Ketahui | Leopard Trading
  2. Review Emiten Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP) Ala Leopard Style Trading | Leopard Trading

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*