Mau Beli Saham? Jawab Dulu Pertanyaan Berikut

Sragen, 4 Agustus 2019. By Liliana Kurniawati

Untuk Anda yang baru saja memutuskan untuk menginvestasikan uang Anda di pasar modal, saya ucapkan selamat karena Anda telah memutuskan untuk menukar uang Anda dengan sebagian kepemilikan atas perusahaan yaitu berupa lembar saham dan ini adalah cara terbaik untuk mendatangkan uang bagi Anda tanpa harus repot bekerja dan berbisnis dengan segala macam bentuk risikonya.

Tentunya saham juga memiliki risiko yang harus Anda hadapi. Untuk dapat meminimalkan risiko tersebut tentunya Anda harus tahu betul saham apa yang Anda akan beli.

Karena dibalik lembar saham yang Anda beli terdapat bisnis perusahaan di dalamnya.  Semakin Anda tahu perusahaan apa yang Anda beli, bagaimana track record perusahaannya dalam menghasilkan laba, bagaimana prospek kedepannya, bagaimana manajemennya mengelola perusahaan dan apakah perusahaan tersebut ditawarkan kepada Anda dengan harga yang murah atau mahal, maka akan semakin minimal risiko yang akan Anda hadapi.

Pasti setelah membaca kalimat di atas, dahi Anda akan mulai berkerut-kerut.

Pertanyaan yang muncul di benak Anda selanjutnya adalah “Bagaimana saya bisa mengetahui itu semua? Sedangkan saya tidak memiliki latar belakang akuntansi. Jangankan berpikir tentang laba perusahaan, pelajaran matematika saya saja selalu jelek nilainya pada saat sekolah”.

Mengetahui seluk beluk perusahaan yang Anda akan beli tidak sesulit seperti apa yang Anda bayangkan.

Sebelum Anda membeli Handphone bukan asal dan langsung membeli kan? Pasti Anda akan mencari tahu, fitur yang dimiliki HP tersebut, berapa megapixel kameranya, berapa inch ukuran layarnya, ada satu atau 3 kameranya, RAM nya berapa, memorinya berapa, harganya berapa, apa keunggulan HP tersebut dibandingkan dengan competitor, apakah harganya sebanding dengan fitur yang dimilikinya, dan lain sebagainya.

Tentunya Anda tidak akan langsung membeli HP ketika anda ingin memiliki HP baru kan?

Sama juga halnya dengan saham, sebelum Anda memutuskan untuk membelinya seharusnya Anda juga melakukan analisa sama seperti sebelum Anda membeli HP.

Namun seringkali, banyak individual investor seperti Anda, saya dan kita memutuskan membeli saham karena rumor di berita, ikut-ikutan rekomendasi di group-group saham yang gratis sampai yang berbayar dan itu semua dilakukan hanya dengan sepersekian detik dari kita menerima informasi, tanpa menganalisa secara pribadi apakah layak saham tersebut kita beli dan apakah saham tersebut ditawarkan dengan harga yang murah, masuk akal atau tidak.

Hal inilah yang menyebabkan banyak individual investor kehilangan uangnya di pasar, alih-alih mendapatkan untung, yang ada malah uang yang sudah dikumpulkan dengan susah payah dengan mengorbankan keringat dan air mata, hilang begitu saja di pasar modal dan akhirnya Anda kapok investasi saham di pasar modal.

Hal di atas tidak akan terjadi apabila Anda berhati-hati sebelum memutuskan membeli suatu saham dan mencari tahu seluk beluk perusahaan yang akan Anda beli.

Michael D. Sheimo dalam bukunya yang berjudul “Stock Market Rules Fourth Edition: 50 of the Most Widely Held Investment Axioms Explained, Examined, and Exposed” mengungkapkan bagaimana cara memilih saham dengan hati-hati sebelum Anda memutuskan untuk membelinya. Berikut adalah pertanyaan yang wajib Anda ketahui jawabannya sebelum memutuskan membeli saham.

Apa bisnis inti dari perusahaan yang akan Anda beli?

Bisnis inti atau model bisnis perusahaan haruslah bisnis yang mudah Anda pahami. Contoh: PT. Sarimelati Kencana, Tbk atau dikenal dengan PZZA bisnis modelnya adalah menjual pizza dengan merek dagang Pizza Hut. Tentunya Anda pernah makan Pizza Hut ini kan? Atau minimal Anda pasti pernah melihat gerainya di Mal, di jalan atau bahkan Anda pasti pernah melihat salah satu iklannya di TV. 

Masih banyak perusahaan lain di pasar modal Indonesia yang memiliki model bisnis yang pasti Anda kenal, seperti: SIDO (Produsen dan penjual Tolak Angin), FAST (pemegang lisensi bisnis KFC), AMRT (Alfamart), ACES (Ace Hardware yakni penjual perlengkapan rumah tangga) dan sebagainya.

Apakah produk atau service yang dihasilkan dapat hilang di kemudian hari?

Apakah produk atau jasa yang dimiliki oleh perusahaan akan bertahan lama di pasar atau mudah hilang di kemudian hari.

Sebagai contoh: dari zaman dahulu kala sampai dengan saat ini pasti kita memerlukan Bank, jadi bisa disimpulkan perbankan menghasilkan jasa yang kita butuhkan sepanjang masa.

Kemudian, saham rumah sakit, saham obat-obatan dan saham konsumer juga produknya dan jasanya selalu kita butuhkan. Jadi sebelum membeli suatu saham, pastikan apakah perusahaan tersebut memiliki produk dan jasa yang selalu dibutuhkan oleh masyarakat atau tidak.

Apabila iya, maka Anda bisa menjadikan saham-saham tersebut sebagai watchlist dan membelinya ketika harganya murah atau turun.

Apakah Anda dapat menyentuh produk dari perusahaan tersebut atau setidaknya dapat melihatnya?

Apakah produk yang dihasilkan perusahaan tersebut dekat dengan Anda sehari-hari atau malah Anda gunakan setiap hari.

Contohnya: setiap bulan apakah Anda menerima gaji melalui BBCA , BBRI, BMRI, BBNI atau bank apa yang selalu Anda gunakan jasanya.

Atau ketika waktu istirahat Anda biasanya menonton channel TV apa? Apakah RCTI (MNCN), Indosiar dan SCTV (SCMA) atau ANTV (VIVA)? Perusahaan-perusahaan tersebut bisa Anda beli sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Apakah perusahaan tersebut merupakan pemimpin di pasar (market leader) atau penantang (challenger)?

Cara simple melihat apakah perusahaan tersebut merupakan pemimpin pasar adalah dengan cara melihat produk mana yang paling sering digunakan oleh orang banyak.

Contohnya: kita lebih sering meminum air mineral Aqua atau Ades atau Cleo? Pastinya mayoritas penduduk Indonesia lebih banyak minum Aqua sehingga kita bisa simpulkan bahwa Aqua adalah pemimpin pasarnya. Sedangkan ADES dan CLEO adalah penantang di pasar (challenger).

Secara umum, perusahaan penantang memiliki risiko lebih besar daripada pemimpin pasar. Apakah perusahaan tersebut memiliki bisnis yang stabil dan apakah bertahan seratus tahun kedepan?

Pada kasus di atas, apabila kita tahu pemimpin pasarnya adalah Aqua yang perusahaannya sudah delisting dari BEI dan menjadi private company sehingga kita tidak bisa membeli sahamnya. Maka kita masih bisa membeli ADES dan CLEO.

Langkah selanjutnya adalah analisa apakah perusahaan tersebut dapat berkompetisi dengan Aqua atau apakah perusahaan tersebut memiliki keunggulan dibanding Aqua yang membuatnya bisa bertahan selamanya di pasar.

Bagaimana dengan hutangnya? Bagaimana hutang perusahaan tersebut apabila dibandingkan dengan industri?

Untuk mengetahui hutang perusahaan cukup dengan melihat DER (Debt Equity Ratio) dari perusahaan yang akan kita beli di aplikasi RTI maupun di fasilitas online trading Anda.

DER ini adalah perbandingan antara semua hutang yang dimiliki perusahaan dengan modal yang dimiliki perusahaan. Semakin tinggi DER nya maka semakin beresiko perusahaan tersebut. DER perusahaan yang baik apabila kurang dari 1.

Tapi hal ini tidak berlaku untuk sektor perbankan ya, karena bank mencatat uang tabungan Anda sebagai hutang di laporan keuangan mereka sehingga rata-rata perbankan memiliki DER >5.

Setelah mengetahui DER tersebut Anda juga bisa bandingkan dengan DER perusahaan sejenis di industri.

Sebagai contoh: ketika Anda melihat perusahaan yang Anda taksir memiliki DER 2, tentunya Anda menjadi urung untuk membeli karena DER nya tinggi.

Namun setelah Anda lihat perusahaan lain di industri yang sama ternyata DER nya malah 2.5 dan bahkan 3. Tentunya DER perusahaan yang 2 ini menjadi paling kecil di antara perusahaan lain di industri tersebut.

Bagaimana PER nya apabila dibandingkan dengan perusahaan sejenis?

PER atau Price Earning Ratio adalah perbandingan antara laba perusahaan (EPS – Earning per Share – Laba per Saham) dengan harga jual sahamnya.

Contoh: perusahaan dengan laba per sahamnya 200 dijual dengan harga 2000 maka PER nya adalah 2000 : 200 = 10. PER rata-rata BEI adalah 15.

Jadi apabila perusahaan memiliki PER kurang dari 15 maka sudah terbilang murah. Namun Anda juga harus membandingkannya dengan perusahaan yang sejenis.

Cara melihat PER ini bisa dilihat di Aplikasi RTI atau juga fasilitas online trading Anda masing-masing.

Darimana bisnis baru perusahaan berasal?

Bisnis baru perusahaan ini bisa berbentuk usaha baru apa yang akan dijalankan perusahaan yang dapat meningkatkan penjualan dan menghasilkan laba untuk perusahaan.

Sebagai contoh perusahaan yang berencana untuk membangun pabrik baru, tentunya perusahaan tersebut akan mendapatkan peningkatan penjualan dan laba ketika pabrik baru tersebut sudah beroperasi.

Baca Juga : Harga Wajar ala Sufi Investing dengan Graham Number

Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas sebelum Anda membeli saham, maka minimal Anda sudah mengetahui perusahaan apa yang akan Anda beli.

Harapannya adalah dengan mengetahui perusahaan tersebut Anda mampu menghasilkan profit yakni dengan membeli perusahaan tersebut ketika harganya murah (undervalued) dan menjualnya di harga lebih tinggi dan Anda bisa mendapatkan profit yang konsisten dari pasar modal. 

Cara Memilih Saham

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*