Harga Wajar ala Sufi Investing dengan Graham Number

Sebelum jauh ke rumus, saya sarankan untuk mempelajari dasar fundamental dahulu, karena tahu rumus valuasi tanpa tahu dasar fundamental ibarat dikasih resep masakan, tapi kita sendiri belum paham apa misalnya apa itu telur, apa itu tepung, apa itu pengembang dll.

Mempelajari valuasi mau tidak mau harus memahami dasar-dasar dari fundamental itu sendiri. Seperti apa itu komponen laporan keuangan, apa itu rasio keuangan dihitung dari komponen apa saja, dan uniknya setiap sektor yang berbeda terkadang memiliki konsep dan komponen yang berbeda.

Contoh sederhana mengenai Return of Equity (ROE), pasti sudah banyak yang tahu semakin besar ROE semakin “bagus” sebuah perusahaan. Namun tidak sedikit yang bingung kok ada perusahaan yang ROE nya bagus tapi sahamnya lelet naiknya, atau harganya kok segitu-segitu aja.

ROE pun sebenarnya konsepnya tidak sesederhana seperti yang kita kira. ROE memiliki nama lain yaitu DuPont Analysis yang dimana rumusnya adalah :

ROE atau DuPont Analysis = Net Profit Margin x Asset Turnover x Equity Multiplier
NPM = Net Income / Revenue
AT = Sales / Average Total Asset
EM = Average Total Asset / Average Shareholder Equity

Nah loh ribet kan? 😂😂

Kalau di ROE saja kita belum memahami apa itu Asset, apa saja komponenya, apa itu Equity, dan apa saja komponennya maka kita tentunya akan sulit untuk menterjemahkan bagaimana dan apa itu ROE yang sebenarnya.

Sama casenya dengan valuasi, kita harus paham mengenai komponennya. Mengingat valuasi yang digunakan di grup sufi investing adalah valuasi Benjamin Graham Number, atau bisa juga disingkat GN, maka saya akan coba kupas singkat mengenai valuasi GN ini, next time jika ada yang menanyakan lagi tinggal search Hastag #GrahamNumber

Valuasi Graham Number ditemukan oleh Benjamin Graham, Guru sepanjang masa nya Warren Buffet, memiliki aliran yang ultra konservatif dalam menilai value dari sebuah saham agar kita sebisa mungkin dapat memperkecil resiko dari aktivitas kita di pasar saham.

Sehingga jangan heran karena sifat valuasinya yang ultra konservatif sering kali kita temui saham-saham yang nilai instrinsiknya jauh di bawah harga saham saat ini.

Valuasi Graham Number ini mengambil komponen EPS dan Book Value (BVPS) dari laporan keuangan, yang dimana rumusnya adalah :

√22.5 x EPS x BVPS

Konstanta 22.5 merupakan nilai tetap yang merupakan sebuah asumsi yang berdasarkan pengalaman puluhan tahun Ben Graham di pasar modal bahwa PER sebuah saham yang baik tidak boleh melebihi dari 15, dan PBV sebuah saham yang baik tidak boleh melebihi 1.5, dan konstanta 22.5 ini didapat dari 15 x 1.5

PER tidak boleh melebihi 15 artinya Earning Per Share saham tersebut harus bisa memberikan investor titik BEP dalam waktu tidak lebih dari 15 tahun, dan PBV tidak boleh melebihi 1.5 artinya ketika perusahaan dilikuidasi kita masih bisa mendapatkan 66.66% dari total modal kita yang di investasikan di perusahaan tersebut.

Ketika kita melakukan valuasi dengan GN ini tidak jarang kita akan mendapatkan nilai intrinsik sebuah saham sangat terpaut jauh dibawah harga sahamnya.

Banyak yang bertanya-tanya, kok bisa? apakah salah nih valuasinya?

Begini GN sendiri bisa dikatakan sebagai versi simple dari konsep DCF, CAPM dll yang cenderung lebih rumit karena pada DCF dan CAPM kita akan memasukkan banyak variabel-variabel di masa mendatang yang sifatnya seringkali bersifat subjektif dan karena subjektifitas tersebut banyak Investor yang sudah terlanjur “mencintai” sebuah saham bisa bertindak irrasional yang pada akhirnya memberikan proyeksi berlebihan dalam memasukkan komponen2nya seperti proyeksi pendapatan dll.

Sedangkan GN mengasumsikan Constant Condition, dimana kita beranggapan jika dalam tahun2 mendatang perusahaan akan memiliki kinerja seperti saat ini, itulah mengapa dalam valuasi GN ini dibuat sangat konservatif.

Lagi-lagi pertanyaannya adalah KENAPA?

Banyak investor yang melupakan faktor-faktor lain di luar laporan keuangan dan bisnis perusahaan itu sendiri, diantara yaitu :
1. Suku Bunga
2. Inflation Rate

Warren Buffett sendiri pernah berbicara bahwa Suku Bunga maupun Inflation Rate merupakan senjata yang lebih berbahaya dibandingkan dengan senjata atomik seperti senjata nuklir. Karena memiliki sifat compounding alias bunga berbunga.

Baca Juga : Blue Print Investasi Saham (Opening Session)

Contohnya seperti ini, Inflasi misalnya bisa saja konstan 5% pertahun, namun di tahun kedua meskipun pemerintah mengumumkan inflasi tetap terjaga di 5% namun sejatinya bukan lagi 5%, melainkan sudah menjadi 5.25% jika kita menghitung dengan sistem compounding.

Harus diingat setiap kita membeli sebuah saham kita seringkali membeli dengan harga “PBV” nya bukan dengan “BV” nya, sedangkan ROE yang sering dicerminkan oleh EPS itu dihitung berdasarkan kondisi perusahaan sesungguhnya dari sebuah perusahaan, BUKAN HARGA YANG KITA BELI !

Jadi kalau ada perusahaan yang ROE nya 20% pertahun, namun harganya ada di level 3x dari nilai bukunya maka apakah ROE yang akan kita dapat sebesar 20% ? jawabannya adalah TIDAK.

Contoh gampangnya:

Anggaplah Perusahaan A, memiliki total ekuitas setara dengan 500 persaham, dan memiliki EPS sebesar 100 persaham, maka kalau di laporan keuangan akan 20% ROE nya.

Tapi saham perusahaan A dijual dengan harga 2x dari nilai ekuitas perusahannya yaitu di harga 1000, maka sejatinya ROE yang kita dapat hanya 100/1000, yaitu hanya 10% !!

Jika tingkat inflasi kita 5%, maka NET ROE yang kita dapat dari saham A hanya setara 9.5%.

Bagaimana cara hitungnya?

Harga saham : 1000
EPS : 100
Inflasi : 5%
100 – 5% = 95
(95 / 1000) * 100% = 9.5%

Lalu bagaimana kalau kita hold saham tersebut selama 2 tahun dengan asumsi kinerja perusahaan tetap seperti sekarang? maka nilai Inflasi yang kita kurangkan bukan lagi 5%, melainkan 5.25% seperti yang saya jelaskan sebelumnya.

Sehingga mengapa Valuasi GN ini dibuat sangat konservatif agar berfungsi sebagai Proteksi bagi investor dalam berinvestasi di pasar modal.

Rule No. 1 : Never Lose Your Money
Rule No. 2 : Dont Forget Rule No. 1

Itulah mengapa valuasi GN ini buat sedemikian rupa oleh empu nya karena memang musuh kita di pasar modal bukan hanya fluktuasi harga, namun juga ada unsur inflasi, suku bunga dll yang diluar dari komponen laporan keuangan perusahaan itu sendiri.

Everything is not Stand Alone, semuanya didalam sistem ekonomi sangat berhubungan.
Senjata kapitalisme modern adalah Suku Bunga dan Inflasi.

Jika kawan-kawan pernah belajar ekonomi ini masuk dalam Bab ekonomi makro di bagian Fiskal dan Moneter.

Jadi jangan heran seperti Lo Kheng Hong dan Warren Buffet dapat menjadi kaya raya dari saham dengan mempergunakan Value Investing ini, karena dia paham betul apa saja komponennya, apa saja yang menggerakkan pasar, apa saja yang dapat mengurangi nilai uangnya dan apa saja yang dapat menambah nilai uangnya.

Sehingga beliau-beliau ini dapat mempergunakan konsep Valuasi ini dengan benar dan ga hanya dengan sekedar rumus, karena rumus merupakan sebuah fragmentasii akhir dari sebuah konsep perhitungan.

Sufi Investing Bot:
Valuasi – BBRI
Harga Terakhir : 4,400
EPS : 267.48
BVPS : 1,646.31
Harga Wajar : 3,148

Contoh seperti harga wajar BBRI di atas.
Tercatat Harga Wajarnya di bawah Harga Terakhirnya, cukup lumayan jauh.

Namun jika kita mempertimbangkan Harga Pasar saat ini yang ada di 4400, dan EPS nya 267.48 maka ini adalah nharga wajar 3148 adalah nilai yang sangat wajar.

Kenapa?

Coba hitung, Jika kita menghitung dari laporan keuangan ROE nya adalah sekitar 16.24%, karena dihitung dengan membagi EPS dengan BVPS.

Namun apakah di pasar dengan harga BVPS nya? Tidak, kita membeli BBRI dengan harga pasar di 4400, sedangkan EPS hanya 267.48 maka sejatinya return yang kita dapat hanya 6.07%.

Jika kita mengacu pada konsep adanya faktor inflasi, yang katakanlah inflasi itu misalnya tetap sebesar 5% pertahun.

Maka nilai uang yang kita investasikan di BBRI akan otomatis tergerus 5%. Maka di tahun depan, nilai 4400 yang kita investasikan di BBRI tersebut akan berkurang “Buying Power” nya sebesar 5%, alias nilai uang kita di tahun depan hanya tinggal 4180.

So, dengan EPS yang hanya 267.48 yang dimana tahun depan dengan asumsi kinerja BBRI tetap maka nilai uang kiya hanya 4180 + 267.48 = 4447.48 !! cuma nambah 47.48 perak.

Apakah worth kita beli dengan harga 4400?

Ingat, Harga adalah apa yang anda bayarkan, Nilai adalah apa yang anda Dapatkan !!

Baca Juga : Tutorial Fitur Bot dan Mama Screener Sufi Investing

So, saya harap udah sedikit mengerti ya dengan konsep Valuasi Ben Graham yang ada di Bot Sufi Investing ini 😁😁

Kalau mau lebih rinci bisa dengan konsep DCF,CAPM dll cuma kalau masih pada males buat PR nya hal ini berat.

By
Fadli Valerian

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Mau Beli Saham? Jawab Dulu Pertanyaan Berikut | Leopard Trading
  2. Istilah Saham yang Wajib Anda Ketahui | Leopard Trading

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*